Jumat, 21 November 2025

Jangan Lewatkan Kampung Girsang: Pesona Sawah, Bukit, dan Tradisi Batak

 

Simalungun, NINNA.ID-Bayangkan sebuah kampung yang memeluk bukit hijau dengan sawah-sawah bertingkat yang ditatah rapi di lereng-lerengnya — sebuah karya manusia yang seolah menjadi tangga menuju langit.

Inilah Kampung Girsang, sebuah keajaiban hidup yang tak kalah menakjubkan dari teras sawah Cordillera di Filipina.

Kampung Girsang bukan hanya sebuah destinasi wisata; ia adalah napas yang memberi kehidupan bagi manusia dan alam.

Di sinilah, setiap jengkal tanah adalah saksi bisu perjuangan para petani yang menenun harapan dengan tangan mereka sendiri.

Sawah bertingkat di Sitombom dan Gala-Gala tidak dibangun dalam semalam, tetapi lahir dari gotong royong generasi demi generasi yang tak mengenal lelah.

Seperti yang terjadi di Cordillera Filipina, sawah bertingkat di Kampung Girsang adalah mahakarya yang menaklukkan medan terjal.

Dengan kemiringan yang menantang, para petani di Girsang mengguratkan sawah-sawah pada kontur alam, menjaga humus agar tidak hanyut saat hujan turun.

Mereka membangun pematang yang menjadi benteng bagi tanah, air, dan kehidupan. Mereka menanam padi dengan iringan senandung marsiadapari — sebuah tradisi gotong royong yang menjadi denyut nadi kampung ini.

Di sinilah kamu bisa menyaksikan sendiri bagaimana budaya bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan jalan hidup.

Para petani di Girsang menanam bukan hanya untuk perut mereka sendiri, tetapi juga untuk kita semua — karena di sanalah terletak kesadaran: bahwa setiap butir nasi yang kita nikmati, ada tetes keringat petani yang menghidupinya.

Saat kamu menapaki pematang sawah yang hijau zamrud, kamu akan merasakan kehadiran leluhur yang mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam.

[caption id="attachment_35804" align="alignnone" width="590"]Mempertimbangkan: Mak Ober, petani di Kampung Girsang 1 sedang mempertimbangkan apakah padinya sudah layak untuk dipanen atau harus menunggu beberapa hari lagi. Pemandangan sawah padi buat suasana hati tentram. (foto: Damayant) Mempertimbangkan: Mak Ober, petani di Kampung Girsang 1 sedang mempertimbangkan apakah padinya sudah layak untuk dipanen atau harus menunggu beberapa hari lagi. Pemandangan sawah padi buat suasana hati tentram. (foto: Damayant)[/caption]

Tradisi yang terpatri dalam Rumah Batak yang kokoh tanpa paku, diukir dengan cinta dan kebijaksanaan, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.

Kampung Girsang adalah bagian tak terpisahkan dari Geopark Kaldera Toba — sebuah warisan geologi dan budaya yang diakui dunia.

Status ini bukan sekadar label, melainkan pengakuan bahwa tempat ini memiliki nilai universal bagi umat manusia. Namun, status ini hanya bisa dipertahankan jika kita semua ikut serta menjaga dan menghargai warisan yang ada.

Jangan biarkan sawah-sawah ini kering karena keegoisan kita yang menganggapnya hanya pemandangan untuk difoto. Jangan biarkan generasi muda lupa cara bertani, lalu sawah berubah menjadi lahan yang ditinggalkan.

Seperti teras sawah di Ifugao, sawah di Kampung Girsang membutuhkan air yang mengalir, tenaga yang tulus, dan cinta yang tak kenal pamrih.

Saat kamu berkunjung, datanglah bukan hanya sebagai turis yang mengambil gambar, tetapi juga sebagai sahabat yang memahami: di sinilah, kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan alam.

Datanglah ke Kampung Girsang. Hirup udara segar di Bukit Simumbang, rasakan aroma kopi yang menenangkan, dan lihat bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam.

Bawalah rasa ingin tahu, pulanglah dengan rasa hormat dan kagum. Karena di sinilah, setiap langkahmu adalah bagian dari perjuangan panjang untuk menjaga agar keajaiban hidup ini tetap lestari.

Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah bagian dari cerita yang tak akan pernah selesai ditulis.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Sabtu, 11 Oktober 2025

Meet Damayanti Sinaga—Guiding You to the Soul of Sumatra

Damayanti’s Guests Explore Girsang Village

NINNA.ID-When you think of Sumatra, you may picture the vast volcanic Lake Toba, the lush jungles of Gunung Leuser, or the graceful Minangkabau houses of West Sumatra. But to truly experience this island, you need someone who can bring its stories to life. That is where Damayanti Sinaga — warmly known as Butet — steps in.

Who is Butet?

In Batak culture, Butet is a loving name for baby girls. For Damayanti, the name has become part of her identity and her guiding spirit. Born in Medan and raised in the Batak heartland, she now lives in Kampung Ulos Hutaraja, a traditional weaving village on Samosir Island, at the heart of Lake Toba.

Surrounded by breathtaking landscapes and a community rich in tradition, Damayanti’s passion for guiding was born. She often says:

“Lake Toba is not just a place, it’s a story waiting to be told.”

For her, guiding is not only about showing destinations, but about connecting people, cultures, and stories.

A Journey Rooted in Passion & Experience

Damayanti brings together a unique combination of professional expertise, community dedication, and cultural storytelling:

  • Experienced Tour Guide (2022–present)
    Specializing in Lake Toba, Samosir Island, Bukit Lawang, Berastagi, and West Sumatra. She curates journeys that mix adventure — like jungle treks and volcano hikes — with deep cultural immersion.
  • Seasoned Journalist & Writer (2012–present)
    With a decade as a reporter and editor at Harian Analisa and later as a content writer at NINNA.ID, Damayanti has honed her storytelling skills. She writes extensively about Lake Toba, tourism, and culture — turning every tour into a living story.
  • Community Educator & Leader
    Founder of Rumah Belajar Hutaraja, she teaches English and mentors local youth, ensuring that the next generation is ready to connect with the world through tourism.
  • Award-Winning Communicator
    Recipient of multiple journalism and academic awards, from the Airport Journalism Award (2014) to the Best Paper Award from Bank Indonesia (2022). Her background ensures professionalism, clarity, and a global outlook.

🌿 Her Guiding Philosophy: Sustainable & Meaningful Travel

As a proud daughter of Lake Toba, Damayanti believes that tourism must sustain, not consume. That means:

  • Encouraging eco-friendly travel behaviours.
  • Supporting local artisans, farmers, and businesses.
  • Promoting authentic cultural experiences over staged ones.

Every tour she leads is not just about visiting, but about contributing — ensuring that both visitors and local communities’ benefit.

[caption id="attachment_36257" align="alignnone" width="1920"]Damayanti’s Guests Visiting Rumah Belajar Hutaraja 
Damayanti’s Guests Visiting Rumah Belajar Hutaraja[/caption]

Exploring Sumatra with Damayanti

When you travel with Damayanti, expect more than just a guide. Expect a storyteller, interpreter, and bridge between you and the land.

[caption id="attachment_36260" align="alignnone" width="2560"]Damayanti’s Guests Visiting Pagaruyung West Sumatra Damayanti’s Guests Visiting Pagaruyung West Sumatra[/caption]

Her 11-day signature journey across Sumatra showcases the island’s diversity:

  • 🐘 Tangkahan – Bathing elephants and learning about conservation.
  • 🌳 Bukit Lawang – Trekking in Gunung Leuser National Park to encounter orangutans.
  • 🌋 Berastagi – Sunrise hike to Mount Sibayak and hot spring relaxation.
  • 🛶 Lake Toba & Samosir Island – Immersing in Batak traditions and village life.
  • 🍍 Padang Sidempuan – Plantation visits and scenic river walks.
  • 🎭 Bukittinggi & Pagaruyung – Minangkabau culture, royal heritage, and songket weaving.
  • 🌊 Padang – Waterfalls, seaside charm, and a farewell with lasting memories.

Throughout the journey, she weaves stories of history, culture, and everyday life — making the landscapes come alive.

[caption id="attachment_36258" align="alignnone" width="1920"]Damayanti’s Guests Visiting Bukit Lawang 
Damayanti’s Guests Visiting Bukit Lawang[/caption]

💬 Damayanti’s Promise

“I want travelers to see Sumatra not only with their eyes, but with their hearts. Every mountain, every village, every dance tells a story. As your guide, I am here to make sure you don’t just visit Sumatra — you connect with it.”

🌺 Travel with Damayanti

With Damayanti as your guide, you don’t just take a trip.
You discover, connect, and belong — even if only for a while — to the living story of Sumatra.

🌿 Travel with Damayanti Sinaga: Where every road tells a story, and every story brings you closer to Sumatra.

Jumat, 10 Oktober 2025

Where Storytelling Meets Guiding: The Journey of Damayanti Sinaga

  

Among the tour guides around Lake Toba, the name Damayanti Sinaga is often mentioned with genuine respect. Not because she has worked the longest, but because of the way she thinks, speaks, and acts. She guides not only with her voice, but with meaning.

From the beginning, Damayanti never saw guiding as just a job. For her, being a tour guide is a way to introduce her homeland with heart and knowledge. She wants the world to know that Lake Toba is not only a breathtaking landscape but also home to the rich history, language, and culture of the Batak people.

Her background as a journalist for Harian Analisa and Editor at NINNA.ID has shaped her into a guide who is both factual and engaging. She’s used to researching, writing, and presenting stories with structure and depth. When she speaks to visitors, her storytelling flows like a feature article—rich in information, yet warm and personal.

Senior tour guides and travel agents respect Damayanti because she doesn’t just show places; she helps people understand them. She knows when to explain and when to stay quiet, when to lead and when to let travelers explore on their own. She is not the kind of guide who seeks the spotlight—she shines it on her land.

In many cases, Damayanti also supports travel agents by creating captivating promotional materials and digital content. She understands how authentic storytelling can move potential visitors to come. For tour operators, Damayanti is more than a field partner—she’s part of their creative force.

Beyond tourism, she dedicates her time to teaching children at the Rumah Belajar Hutaraja (Hutaraja Learning House). She believes the future of Lake Toba’s tourism depends on how well the next generation can speak English and appreciate their own heritage. This commitment to community is what makes senior guides and agents admire her even more—Damayanti works not for herself, but for the people around her.

“Being a guide isn’t about how many tourists you take, but how deeply they remember the place you showed them,” she once said.

With her perseverance, ethics, and wide vision, Damayanti stands out as more than a tour guide. She is a storyteller, a culture educator, and a bridge between Toba and the world.

Minggu, 06 April 2025

Kampung Girsang Firdaus Tersembunyi Dekat Parapat Kawasan Danau Toba

 

Simalungun, NINNA.ID-Di Kawasan Danau Toba, tepatnya di Kampung Girsang yang dikenal orang dengan sebutan Girsang 1 dan Girsang 2, alam dan budaya saling berpelukan erat. Hijaunya sawah, aroma rempah dari hutan tropis, dan kokohnya Rumah Batak yang berumur ratusan tahun.

Semuanya menyatu membentuk simfoni kehidupan yang menenangkan hati dan menyejukkan mata. Inilah sekelumit dari keajaiban yang kami promosikan dalam upaya mendukung Danau Toba sebagai bagian dari jaringan Taman Bumi Dunia.

Bukit Simumbang: Menyapa Langit, Menyelami Hutan

Langkah kami terhenti sejenak di sebuah pondok sederhana di lereng Bukit Simumbang. Aplikasi My Elevation menunjukkan angka 1.196 meter di atas permukaan laut.

Bukit Simumbang 2 

Anak-anak berfoto di jalan menuju Bukit Simumbang.(foto:damayanti)[/caption]

Dari titik ini, mata kami disuguhkan panorama menakjubkan: Danau Toba yang luas berkilau di kejauhan dan kota Parapat yang terhampar seperti miniatur.

Namun, keindahan itu bukan satu-satunya yang ditawarkan bukit ini. Perjalanan ke Simumbang adalah petualangan spiritual—melintasi ladang-ladang yang ditanami padi, kopi, coklat, dan berbagai tanaman obat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Di sini, hutan bukan hanya sumber oksigen, tapi juga apotek alami yang menyelamatkan warga selama pandemi. Jahe, kunyit, dan lengkuas menjadi andalan penguat daya tahan tubuh.

Menyusuri hutan ini, kami juga disambut suara alam: denting air sungai tadah hujan dan nyanyian burung Enggang dari kejauhan. Jika beruntung, kita bisa melihat Imbo (Siamang), beruang madu, atau binatang hutan lainnya yang masih setia menjaga rahasia Lembah dan Bukit.

Sitombom: Mosaik Hijau di Kaki Bukit

Di bawah Bukit Simumbang terbentang Sitombom, lembah kecil yang menjadi saksi gigihnya para petani Kampung Girsang . Nama "tombom" berarti jatuh, sesuai letaknya yang tersembunyi di kaki bukit.

SITOMBOM 
Provinsi Sumatera Utara (Sumut) memiliki potensi alam berupa tanaman pangan, palawija, perkebunan, dan lainnya. (foto: Damayanti)[/caption]

Tapi justru dari lembah inilah, kita melihat keindahan yang tak bisa ditolak: teras-teras sawah yang mengalir mengikuti kontur tanah, membentuk lukisan hidup dalam gradasi warna hijau.

Para petani di sini adalah seniman alam. Mereka menciptakan sistem pengairan dari sungai pegunungan dan menyulap tebing menjadi ladang padi.

Ini bukan hanya soal bertani—ini soal mempertahankan warisan, budaya kerja keras, dan filosofi "marsiadapari", gotong royong yang masih hidup hingga kini.

Mak Ober, salah satu petani senior, tampak berdiri memandangi padinya. Ia sedang menimbang, apakah panen sudah waktunya atau harus menunggu sinar matahari beberapa hari lagi.

Ketika kami bertanya, ia hanya tersenyum dan menunjuk langit. “Tanda-tandanya ada di sana,” katanya bijak.

Sigala-Gala: Di Antara Teras Sawah dan Semilir Angin

Nama Sigala-Gala diambil dari jenis tanaman yang mendominasi wilayah ini. Tempat ini adalah jalan penghubung antara Girsang 1 dan Girsang 2, serta pintu gerbang menuju air terjun yang tersembunyi.

Di sinilah pengunjung bisa berjalan di antara hamparan sawah, menghirup udara segar, dan menyaksikan petani bekerja dengan alat-alat tradisional: cangkul, parang, dan semangat tak tergoyahkan.

Perjalanan menuju Sigala-Gala mengajak kita menelusuri huta-huta yang masih mempertahankan Rumah Batak asli. Jalan bercabang ke kiri membawa kita ke Huta Simandalahi, sementara ke kanan menuju panorama sawah yang seolah tak berujung.

Terutama saat musim panen, warna-warna kuning keemasan dan hijau zamrud berpadu menciptakan keindahan yang nyaris tak tergambarkan.

Huta Simandalahi: Rumah-Rumah yang Bercerita

Di balik pepohonan dan ladang, berdirilah Huta Simandalahi. Kampung tua ini didirikan oleh keturunan Simandalahi bermarga Sinaga. Meski banyak keturunannya kini merantau, rumah-rumah Batak di sini tetap berdiri kokoh.

Dibangun tanpa paku, rumah-rumah ini menampung hingga 6 keluarga pada masa lampau, dan tetap jadi simbol keuletan dan arsitektur tradisional.

Di Kampung Girsang, bertani bukan sekadar profesi—ia adalah budaya dan filosofi hidup. Anak-anak sudah akrab dengan parang sejak kecil. Mereka diajarkan menanam, merawat, hingga memanen.

Proses panjang ini menjadi guru kehidupan, mengajarkan ketekunan dan keberanian. Bahkan ketika berhadapan dengan ular atau binatang berbisa, anak-anak desa ini tetap tenang dan terus melangkah. Mereka tidak hanya tumbuh bersama alam, mereka adalah bagian dari alam itu sendiri.

Girsang Kreatif

Potensi Kampung Girsang tak berhenti pada keindahan alam. Warganya aktif mengelola hasil pertanian menjadi komoditas unggulan.

Kopi, kakao, kemiri, jahe, hingga andaliman—semuanya dipasarkan secara langsung ke warung, pasar, bahkan wisatawan.

Beberapa warga sudah mulai mengolah hasil bumi menjadi produk siap saji seperti kue, kopi bubuk, dan masakan tradisional.

Kampung Girsang adalah napas segar di tengah geliat modernisasi. Ia tak hanya menampilkan lanskap memikat, tapi juga cerita-cerita kecil yang menggugah.

Dari Bukit Simumbang yang menyentuh awan, hingga senyuman hangat petani di tengah ladang, setiap sudut Kampung Girsang memanggil kita untuk datang, belajar, dan biarkan hatimu tinggal di Kampung Girsang.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Jumat, 04 April 2025

Bukit Singgolom Desa Tarabunga: Permata Tersembunyi di Tepian Balige Danau Toba

NINNA.ID-Usai makan siang di Restoran Sinar Minang di Kota Balige, kami menuju Desa Tarabunga, sebuah permukiman kecil nan menawan. Terletak hanya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Udara sejuk membelai lembut wajah, dan kilauan air Danau Toba yang tak pernah gagal memukau mata.

Inilah Tarabunga—desa wisata yang menawarkan keindahan alam luar biasa dan kekayaan budaya Batak yang otentik.


Tak jauh dari desa, ada Bukit Tarabunga, tempat terbaik untuk menyaksikan kemegahan Danau Toba dari ketinggian.

Bukit Tarabunga 

Para Kepala Sekolah BPK Penabur Jakarta saat liburan ke Kawasan Danau Toba. Bukit Tarabunga salah satu dari banyak objek wisata yang mereka kunjungi di Kawasan Danau Toba (foto ©Damayanti)[/caption]

Jalan menuju ke sini bisa ditempuh dengan mudah, baik melalui jalur Tampahan maupun Lumban Silintong.

Hanya butuh sekitar 15 menit berkendara dari Balige, namun sensasi yang ditawarkan terasa seperti perjalanan ke dunia lain—tenang, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk.

Dari puncak bukit, mata kita akan dimanjakan oleh panorama yang hampir tak terlukiskan dengan kata-kata: danau biru membentang luas, Pegunungan Bukit Barisan menjulang gagah di kejauhan, dan hamparan sawah hijau menyatu harmonis dengan langit yang seolah tak bertepi.

Saat matahari terbit atau tenggelam, warna-warna langit berubah menjadi kanvas alam yang dramatis—momen yang membuat siapa pun terdiam, bahkan mungkin tersentuh secara spiritual.

[caption id="attachment_35045" align="alignnone" width="1920"]Bukit Tarabunga Salah satu spot berfoto keren di Bukit Bukit Tarabunga (Foto ©Damayanti)[/caption]

Melintasi Jejak Budaya Batak

Namun Tarabunga bukan sekadar tempat untuk menikmati alam. Di sinilah kita bisa melihat bagaimana budaya Batak hidup berdampingan dengan alamnya.

Rumah-rumah adat Batak masih berdiri kokoh, menjadi simbol kekuatan dan warisan leluhur.

Setiap lengkung atap, setiap ukiran di kayu punya cerita—tentang keluarga, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang terus dijaga.

Yang menarik, Bukit Tarabunga juga dikenal sebagai “jalan menuju surga”—sebutan yang diberikan masyarakat karena di bukit ini terdapat beberapa makam leluhur Batak.

Menurut kepercayaan lokal, arwah para leluhur menapaki perbukitan ini untuk menuju alam baka.

Mengunjungi tempat ini bukan hanya soal jalan-jalan, tapi juga menyelemai tradisi dan kepercayaan Batak Toba yang telah berakar ratusan tahun.

Tips Menikmati Bukit Tarabunga

  • Datang pagi atau sore hari, saat cahaya matahari sedang lembut-lembutnya. Momen sunrise dan sunset di sini terlalu indah untuk dilewatkan.
  • Bawa kamera atau ponsel yang memadai, karena kamu akan tergoda untuk terus memotret setiap sudut.
  • Kenakan pakaian nyaman dan alas kaki yang pas, terutama jika ingin naik ke bukit.
  • Dan yang paling penting, jaga etika, terutama saat berada di sekitar makam leluhur. Hargai tempat dan budaya setempat.

Tarabunga bukan hanya destinasi, tapi pengalaman. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menyerap keindahan, dan mengenali warisan budaya yang masih hidup di tengah alam.

Di sinilah keheningan bukan tanda kesepian, melainkan panggilan untuk mendengar suara-suara alam dan sejarah yang berbisik lewat angin dan danau.

Kalau ke Balige, jangan cuma singgah. Luangkan waktu untuk menyentuh langit dari Bukit Tarabunga. Siapa tahu, kamu menemukan sepotong kedamaian yang selama ini kamu cari.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Rabu, 02 April 2025

Budget-Friendly Travel Guide to Lake Toba from Medan

 NINNA.ID-Traveling to Lake Toba on a budget is totally possible! With some planning and research, you can enjoy the stunning nature and rich culture of Samosir Island without spending too much. Here’s a complete guide to exploring Lake Toba affordably.

If you're traveling from Medan, there are several ways to reach Parapat, the main gateway to Samosir Island. The cheapest option is taking a bus, which costs around Rp65,000 per person. Some bus options include Bus Sejahtera, Parisma, and Sampri.

[caption id="attachment_10588" align="alignnone" width="1920"]Lake Toba view View of Lake Toba taken from Bukit Burung (photo: Damayanti)[/caption]

Once in Parapat, you have two ferry options to Samosir:

  • Pelabuhan Tiga Raja (Tiga Raja Port) – If you're heading to TukTuk, take a boat from here for Rp20,000.
  • Pelabuhan Ajibata (Ajibata Port) – A cheaper option with more frequent departures, usually every hour, heading to Tomok.

Budget-Friendly Accommodation

Samosir has plenty of affordable places to stay, including homestays and budget hotels.

  • Homestays offer a cozy stay with locals and cost around Rp150,000 per person if you share a room.
  • Budget hotels range from Rp250,000 to Rp300,000 per night. It's best to book in advance for better deals.

One recommended homestay is Jabu SiRulo, which is known for being affordable and comfortable.

Free & Low-Cost Attractions in Samosir

Samosir is called the "Paradise on Earth" for a reason! The island is surrounded by green hills, part of the majestic Bukit Barisan mountain range. Almost every corner offers breathtaking views, perfect for photography lovers.

Here are some free and low-cost attractions:

[caption id="attachment_34961" align="alignnone" width="2560"]LEMBAH SAGALA1 A free view of Lake Toba near Lembah Sagala, around the foothills of Mount Pusuk Buhit (photo: Damayanti).[/caption]
  • Free attractions:
    • Enjoying the lake views from anywhere on the island
    • Visiting local villages and seeing traditional Batak houses
  • Paid attractions:
    • Holbung Hill & Mount Pusuk Buhit – For stunning views from above
    • Batu Hoda– Quiet beaches with a relaxing atmosphere
    • Hutaraja & Huta Siallagan Villages – Learn about Batak culture and traditional Ulos weaving
    • Nai Sogop Waterfall and Efrata Waterfall
    • Aek Natonang & Sidihoni Lakes – Hidden natural gems

Other must-visit spots include Tomok Market, Bukit Burung, Bukit Sibea-bea, Tele Viewing Tower, and Pangururan Waterfront City.

If you want to explore more, renting a motorbike costs around Rp100,000-130,000 per day.

Saving Money on Food

Food in Samosir is quite affordable:

  • Local food stalls offer meals for Rp25,000-30,000 per dish.
  • To save more, buy food from traditional markets or small warungs.

Estimated Budget for 3 Days & 2 Nights

Here’s a cost breakdown for a budget trip to Samosir:

ExpenseCost
Bus (Medan-Parapat, round trip)Rp130,000
Ferry (round trip)Rp40,000
Homestay (2 nights)Rp600,000
Motorbike rental (2 days, optional)Rp200,000
Food (3 meals/day for 3 days)Rp270,000
Total Estimated CostRp1,240,000

Traveling with friends? You can split accommodation and transport costs to save even more!

Backpacking to Lake Toba on a budget is totally doable! With affordable transport, budget-friendly stays, free attractions, and cheap eats, you can have an amazing trip without breaking the bank.

Ready to explore Lake Toba on a budget?

Writer/Editor: Damayanti Sinaga

Solu Bolon Café, Tempat Bersantai di Simpang Tano Ponggol dengan Suasana yang Menawan

Samosir, NINNA.ID - Saat melintasi Jembatan Tano Ponggol yang menghubungkan Pulau Samosir dengan daratan Sumatera, tak sulit untuk menemukan tempat yang cocok untuk melepas penat.



Suara deru kendaraan yang melintas, angin sepoi-sepoi dari Danau Toba menciptakan suasana yang unik dan menenangkan.

Di antara lalu lalang wisatawan dan penduduk setempat, Solu Bolon Café hadir sebagai tempat bersantai yang nyaman di simpang empat Jembatan Tano Ponggol.

[caption id="attachment_34984" align="alignnone" width="2560"]Damayanti Tour Guide 
Suasana Solu Bolon Cafe (Foto ©Damayanti)[/caption]

Solu Bolon Café bukan sekadar tempat makan biasa. Dengan menu yang menggugah selera, kafe ini menawarkan pengalaman kuliner khas Batak halal.

Bagi pecinta kopi, Solu Bolon Café juga menyajikan kopi khas Sumatera yang kaya rasa dan aroma. Tak hanya itu, berbagai pilihan jus buah segar dari hasil bumi kawasan Danau Toba turut melengkapi pengalaman bersantap di sini.

Untuk teman ngobrol santai, tersedia pula aneka camilan seperti kentang goreng dan hidangan pembuka lainnya.

[caption id="attachment_34995" align="alignnone" width="2560"]SOLU BOLON CAFE Suasana Solu Bolon Cafe di malam hari (Foto ©Damayanti)[/caption]

Solu Bolon Café menyediakan berbagai pilihan makanan dan minuman untuk memanjakan lidah para pengunjung. Berikut beberapa menu favorit yang bisa dinikmati:

SOLU BOLON CAFE MENU

Makanan Utama

  • Soto Daging, Soto Ayam, Sop Iga, dan Sop Ayam Kampung
  • Udang Saos Singapore, Udang Cumi Saos Padang, Cumi Asam Manis
  • Ikan Nila Bakar, Ikan Nila Asam Manis, Ikan Nila Goreng

Hotplate & Dimsum

  • Mie Hotplate Saos Singapore, Nasi Hotplate Ayam Saos Singapore, Nasi Hotplate Ayam Saos Teriyaki
  • Dimsum Ayam, Dimsum Udang, Lumpia Goreng

Camilan

  • French Fries, Pisang Goreng Bakar Coklat Keju, Roti Bakar Coklat Keju

Minuman

  • Kopi: Black Coffee, Kopi Susu, Cappuccino, Vanilla Latte
  • Jus: Alpukat, Mangga, Apel, Terong Belanda
  • Minuman Non-Kopi: Chocolate, Milo, Red Velvet Freeze, Thai Tea
  • Minuman Botol: Air Mineral, Teh Botol Sosro, Badak, Sprite, Fanta, Bir Bintang

Suasana yang Nyaman dan Pelayanan Ramah

Salah satu hal yang membuat pengunjung betah berlama-lama di Solu Bolon Café adalah suasananya yang nyaman dan bersih.

Dengan konsep ruang yang terbuka, pengunjung dapat menikmati udara segar sembari mengagumi pemandangan sekitar.

Selain itu, keramahan para pegawai di sini menjadi nilai tambah yang membuat pengalaman bersantap semakin menyenangkan.

Keamanan dan kebersihan makanan juga menjadi prioritas utama, memastikan bahwa setiap hidangan yang disajikan tetap higienis dan berkualitas.

Lokasi Strategis dan Mudah Dijangkau

Berlokasi tepat di Simpang Empat Jembatan Tano Ponggol, kafe ini menjadi persinggahan ideal bagi wisatawan yang ingin beristirahat setelah menjelajahi Samosir.

Dengan jam operasional dari pagi hingga malam, pengunjung bebas memilih waktu terbaik untuk menikmati suasana kafe, baik di pagi hari saat matahari mulai menyinari danau, maupun di malam hari dengan nuansa yang lebih tenang.

Tak perlu ragu untuk memasukkan Solu Bolon Café ke dalam daftar kunjungan Anda selama berada di Samosir. Baik untuk sekadar menyeruput kopi, menikmati hidangan khas, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, tempat ini siap memberikan pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

📍 Lokasi: Simpang Empat Jembatan Tano Ponggol

Jam Operasional: Pagi hingga malam

📞 Reservasi & Info: (0812-9562-6699)

Jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati momen terbaik Anda di Samosir dengan singgah di Solu Bolon Café!

Writer/Editor: Damayanti Sinaga

Jangan Lewatkan Kampung Girsang: Pesona Sawah, Bukit, dan Tradisi Batak

  Simalungun, NINNA.ID -Bayangkan sebuah kampung yang memeluk bukit hijau dengan sawah-sawah bertingkat yang ditatah rapi di lereng-lerengny...